Matematika Produktif

“……..jaman sekarang, jangankan yang halal yang haram aja susah dapatnya….”
Terus terang aja kata2 ini pernah mampir dalam pikiran saya, juga pernah saya ucapkan.  Dan saya juga pernah mendengarnya dikatakan oleh beberapa orang di kantor juga di teve, baik secara bercanda maupun serius.

Waktu saya mengucapkan kalimat itu, sebenarnya saya menirukan kalimat yang pernah didengar, dan Cuma berusaha ironi dan dramatisasi saja (setengah becanda deh, walaupun juga membenarkan dalam hati).

Namun, akhir-akhir ini saya merasa bahwa pikiran yang melahirkan kalimat itu jelas salah.

Betul bahwa kesulitan hidup saat ini, kesulitan untuk mendapatkan uang begitu susahnya.  Namun seharusnya tidak sampailah berpikir untuk menghalalkan segala cara. Tidak perlu gantung “agama/keyakinan” hanya karena perut lapar, dompet tak berisikan duit.

Beberapa waktu yang lalu, belum lama sebelum ini. Saya dan keluarga sebenarnya nggak butuh-butuh amat duit, artinya dengan gaji yang halal sebenarnya cukup lah untuk sekeluarga.  Cuma ada kesempatan, ada orang datang memberi uang tentunya ada maksud, sebetulnya saya bisa menolak karena saya merasa duit saya cukup lah. Tetapi, logika matematika yang sudah tertanam dalam otak saya bilang begini : saya punya duit ni 10 juta dari gaji, cukuplah buat keluarga, tapi ada yang mau ngasih 10 juta lagi. 10 jt ⁺ 10 jt = 20 jt. He lumayan…padahal 10 jt yang mau dia kasih belum jelas halal haramnya. Namun, logika saya mengalahkan iman saya. Saya terima dengan hitungan 10 jt ⁺ 10 jt = 20 jt.

Saya baru sadar sekarang ini, bahwa hitungan 10 jt ⁺ 10 jt = 20 jt itu salah.

Yang ada malah 10 jt ⁺ 10 jt = 0.

Gaji saya yang 10 jt malah kemakan sama duit haram itu. Bahkan mungkin bukan Cuma gaji saya yang 10 jt itu saja yang kemakan, jabatan saya, rumah tangga saya, dan lain-lain ikutan tergerus, termakan oleh uang haram. Astaghfirulloh,

Saya memohon keampunan MU ya Rabb, hamba telah lalai kepada MU, hamba Tidak hati-hati dalam segala hal yang berkaitan dengan halal dan haram. Sehingga hamba salah mengira. Hamba mengira berjalan menuju MU ternyata menjauhi MU, hamba mengira telah bekerja untuk mengkayakan diri dan keluarga ternyata hamba sedang memiskinkan diri dan keluarga. Sehingga akhirnya seperti ini. Ampuni hamba Ya Allah. Ampuni segala kealfaan hamba, sesungguhnya ENGKAU Maha Penerima Taubat. Amien.

KUTIPAN :
Imam Ibnu Al Qayyim rahimahullah berkata: Dan barangsiapa memperhatikan keadaan manusia, maka dia pasti dapatkan mereka seluruhnya –kecuali sedikit saja- merupakan golongan orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusan-urusan dan kepentingan mereka terabaikan, yaitu mereka kurang perhatian terhadap hal-hal yang mendatangkan manfaat dan membawa kemaslahatan baginya, sedang mereka menyibukan diri dengan hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat baginya, bahkan justeru mendatangkan malapetaka bagi mereka, baik sekarang maupun di masa mendatang.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia. (al-Anfal: 2-4)

One thought on “Matematika Produktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s